COVID-19, Insomnia, Tangis, Dia dan Psikiater (Bagian Pertama)

Tidak ada rasanya, bulan yang memberatkan selain bulan Juli dan Agustus tahun ini. Jika boleh, aku ingin menghapus kedua bulan ini di 2021.

Aku kembali teringat lagu favorit aku kala kuliah dulu. Lagu itu berjudul Ephemera, dari band kesukaan aku Letto (dulu setiap mendaftar dalam sebuah komunitas di internet, dan bahkan email, selalu username ku mengandung kata plettonic, yang artinya fans penyuka Letto).

Far too many emotions that taint my soul before my faith, and often I drown in the moment. When in the end, they all… Ephemera!
So I am growing old, but life doesn’t seem as pretty. With sometimes it’s even as blue as the endless sea. Blue as the sea, blue as the sky.
Everywhere I look, Everywhere I turn. Every time I glow and every time I burn. I should not mind to mourne. Sometimes…Sometimes…Sometimes..Sometimes…it’s just Ephemera.

Adalah di atas penggalan lirik yang aku nyanyikan kala itu, dengan tangis yang menjadi jadi saat di kamar mandi. Cengeng? Iya. Tapi aku butuh itu.

Semuanya bermula dari 28 Juli 2021. Aku tidur saat itu hanya 4,5 jam. Saat itu kondisi badanku batuk dan pilek.  Saat itu aku yakin aku tidak terkena COVID-19. Ada dasar yang kuat saat itu (swab antigen berkali-kali dengan jeda hari yang berbeda menunjukkan hasil yang negatif dan bukti lainnya).

Hari Kamis, tanggal 29 Juli 2021, adalah malam di mana semuanya makin buruk. Saat itu, aku dan dia bertengkar kecil hingga Jumat pagi hari. Semuanya terselesaikan dengan baik saat itu. Namun tidak dengan badan ini. Disitu adalah awal mulanya aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku sudah mencoba tidur di siang harinya. Dan hasilnya nil. Badanku sama sekali tidak bisa diajak tidur sama sekali.

Waktu itu aku berpikir, ini adalah efek samping obat Actifed yang aku konsumsi karena berdasarkan laman Hello Sehat yang aku baca di sini, diinformasikan bahwa salah satu efek sampingnya adalah insomnia .  Aku pun langsung berhenti menggunakan obat ini. Namun apes, Jumat malam aku juga sama sekali tidak bisa tidur. Padahal, dia sudah datang menolong, dan menemaniku. Akhirnya aku memutuskan ke IGD RS Carolus  Sabtu dini hari. Berharap diberikan obat tidur, ternyata dokter jaga saat itu adalah dokter umum,dan dokter umum tidak bisa meresepkan obat tidur. Aku akhirnya diberi obat batuk, obat anti alergi yang memberikan rasa kantuk, serta antibiotik. It didn’t help at all. Poor me!

Paginya, aku pun memutuskan berkonsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam dan psikiater melalui aplikasi Halodoc. Aku sudah tidak tidur dua hari, dan ini sangat menganggu. Jujur saja waktu itu, badanku sudah lemas banget dan aku takut mati karena tidak bisa tidur ini. Oleh psikater, aku diresepkan obat Sandepril, anti depressant. Setelah melakukan pembayaran obat, parahnya obat ini tidak tersedia langsung. Aku pun semakin kalut.  Untungnya saat aku konsultasi selanjutnya dengan dokter Sp.Pd, aku diresepkan obat gangguan tidur (Otede). Dan akhirnya dari pagi hingga siang aku bisa tertidur setelah minum obat itu. What a life! Malamnya, aku memutuskan untuk tidak minum obat Otede lagi, dan aku masih bisa tertidur.

Tanggal 1 ke 2 Agustus, aku pun masih bisa tertidur walau pun kurang dari 4 jam. Aku pun berusaha melakukan olahraga Body Combat di malam tanggal 2 nya. Bodohnya aku, aku melakukannya tepat jam 10 malam. Aku pun tidak bisa tidur sama sekali dari tanggal 2 ke tanggal 3 walau aku meminum setengah kaplet Otede saat itu. Masalah ini pun akhirnya muncul lagi dari tanggal 3 ke tanggal 4. Walau aku sudah diresepkan mengkonsumsi melatonin oleh dokter dari Halodoc, namun sama sekali tidak membantu.

Kembali ke masalah awal pikirku saat itu. Dilema berat. Aku sudah mencoba banyak hal, mulai dari minum teh chamomile, memasang pengharum lavender, hingga meminum Otede lagi (sekalipun hati kecilku enggan karena aku masih berusaha sebisa mungkin tanpa bantuan obat). It didn’t help at all.

Akhirnya pertama kalinya aku pun memutuskan ke psikiater. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku impikan. Sesuatu yang akhirnya muncul setelah aku lelah mencari tahu sana sini, mencoba usaha sana sini, dan sedih melihatnya pasti lelah mengurusku. I had to do something.

Walau hatiku enggan dan berusaha menolak realita bahwa aku harus ke psikiater, logika dan dia menguatkanku untuk tetap menjalani proses ini. Setengah hati, namun tetap aku jalani. Apalagi ini menyangkut nyawaku. Sesuatu yang aku gak bisa kompromi.

(…bersambung…)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × one =